Hanya Ingin Memberi
06 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Ada satu kebiasaan yang hampir selalu ku lakukan dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Dalam perjalanan pulang kami, aku dan suami yang berboncengan motor selalu melewati perempatan lampu merah sebelum arah pangkalan jati. Dan tepat dilampu merah itu akan ada seorang pemuda dengan monyetnya beraksi memberi hiburan bagi setiap orang yang lewat. Sebenarnya satu-satunya motivasi pemuda itu hanya mendapatkan sesuap nasi dengan cara yang halal, walau nampaknya tak banyak yang bisa dihasilkannya melalui aksi topeng monyetnya itu. Namun aku pribadi tetap menghargai dan salut karena di usianya yang masih muda ia tak lantas mencari jalan pintas untuk mencari penghasilan lebih besar dengan menjadi pencopet atau mengemis.
Aku dan suami selalu menyiapkan uang selembar dua ribu rupiah untuk dilemparkan kepadanya. Namun bagi sebagian orang memberi uang kepada pelaku topeng monyet itu adalah bukti dukungan terhadap pengekangan kebebasan dari si binatang monyet itu sendiri atau dengan kata lain kejam. Sempat aku berpikir mungkin anggapan itu ada benarnya. Namun entah kenapa rasa iba dan rasa menghargai keberanian si pemuda untuk bertahan dengan kemelaratannya jauh lebih besar dan tidak mampu menghentikan aku untuk senantiasa memberikannya sedikit uang.
Diluar sana begitu banyak orang muda yang tak puas dengan profesi2 halal dengan penghasilan minim. Mereka cenderung terbuai oleh materi tanpa memikirkan apakah jalan yang ditempuhnya demi uang itu halal atau tidak. Disini aku menghargai para pencinta binatang yang menyayangkan tindakan ‘mengeksploitasi’ monyet untuk melakukan hal2 ‘yang dianggap lucu’ sehingga menimbulkan rasa iba yang melihat dan akhirnya memberikan uang.
Banyak hal2 buruk lainnya ditujukan kepada para pekerja topeng monyet, dan aku tidak menyalahkan namun bukan berarti mendukung juga, aku menghargai perbedaan pendapat. Jadi biarkanlah, aku hanya ingin memberi, itu saja tidak lebih dan tak kurang
Pay It Forward